Thursday, 19 January 2017

Bebal Berharap

Hanya satu yang ku tak mampu. Memilikimu. Selebihnya akan kucoba semampu yang kubisa, setidaknya sampai kau menyadari bahwa hanya aku yang selalu ada.


Kemungkinanku untuk gagal membahagiakanmu itu besar. Sebesar kepala dedemit yang meremehkan manusia. Tetapi kemungkinanku untuk menyerah sangatlah kecil. Sekecil niatan baik yang terselimuti rasa pamrih.


Harus kuakui ternyata bukan sesuatu yang mudah untuk memikul rindu sendirian. Terlebih lagi ketika yang dirindukan tak kunjung mempedulikan. Kekecewaan selalu ada di setiap pengharapan. “Seharusnya cari saja yang lain,” kata hatiku.


“Aku tahu, tetapi aku tak mau.”


“Kau seperti orang bodoh yang bebal.”


“Begitulah aku. Jangan kau paksa aku untuk berpikir ulang, karena selalu dirinya yang terbayang. Inilah cint—”


“—Itu hanya sebuah kebodohan.”


“Lalu, apakah orang bodoh tak boleh memiliki harapan?”


…..
Posted on by Jonathan Ramsey in

Monday, 7 November 2016

Cerita Super Pendek

SEMENJAK kedatangannya beberapa saat yang lalu aku tahu ada yang tidak biasa–bahkan mungkin luar biasa–telah terjadi padanya. Wajahnya yang pucat dan tatapannya yang berat itu pertanda bahwa dia sedang tidak baik-baik saja. Aku belum tahu mengapa, tapi kurasa sebentar lagi dia akan memberitahukannya.

Aku menunggunya bicara, namun dia hanya diam. Masih dengan kesuraman di raut wajahnya, tak satu pun kata keluar dari mulutnya. Aku tak tahan lagi melihatnya. Jika memang dia tak kuasa untuk memulainya, mungkin aku yang harus bertanya, “Kamu nahan ee, ya?”

“Iya,” jawabnya pelan.

“Yeee, pantesan bau.” kataku sedikit sinis. “Sana buang dulu!”

“Ehehe…” lantas dia pun pergi ke sumur sambil jalan mundur.

TAMAT.

Wednesday, 4 May 2016

Untuk Perempuanku

Kita sedang—lebih jauh lagi—dipisahkan oleh jarak. Pertemuan menjadi sesuatu yang teramat mahal untuk kita dapatkan. Sering aku merasa rindu, dan mungkin begitupun dirimu; yang juga merindukanku.


Biasanya, kalau salah satu dari kita ada yang merasa rindu di dadanya sudah cukup menyiksa, pasti akan langsung datang dan menemui. Tapi kini, jarak itu rasanya terlampau jauh untuk diarungi.


Kini kita hanya bisa bercengkrama dalam kata, ya, hanya dalam kata, dalam perbincangan pesan singkat di setiap pagi kita. Di saat kamu baru terbangun dari tidurmu dan aku yang masih terjaga dari tidurku.




Aku tak pernah benar-benar tahu apa yang sedang kamu lakukan di sana, sesering apa pun kamu mengabariku dengan jelas.


Kamu tak pernah benar-benar tahu apa yang sedang kulakukan di sini, karena sebisa mungkin aku tak ingin membuatmu cemas.




“Selamat pagi, Sayang!” katamu di sana, di Whatsapp.


“Pagi...” kataku sambil menghentikan aktivitas menonton film kartun hasil download-an semalam.


“Ke mana aja?”


“Hah?”


“Ke mana aja gak ada kabar? Kalo mau ngilang-ngilang tuh kabarin dulu. Biar aku gak nyariin. Aku cuma mau tau kabar kamu aja kok. Aku gak akan ganggu kamu kalo aku tau kamu lagi sibuk. Masalahnya, aku gak pernah tau. kamu langsung ngilang gitu aja gak ada kabar.”


“Oh, aku ketiduran.” Jawabku, singkat.


Padahal aku kan hanya tidak mengabarimu dalam beberapa jam, tapi kamu sudah sepanik itu. bagaimana kalau aku tidak mengabarimu dalam beberapa hari? Atau beberapa minggu? Mungkin kamu sudah melaporkan berita kehilanganku ke kantor Polisi. Berlebihan.




“Aku kangen!” katamu.


“Samperin!” balasku.


Bukan hanya kamu, tapi aku pun merasakan kerinduan itu. Meski aku tak pernah mengatakannya, aku yakin kamu sudah tahu.




Semakin jauh jarak di antara kita, semakin besar juga godaannya.


Baru-baru ini ada wanita yang mendekatiku. Kamu tahu? Oh, tentu tidak, kan aku belum cerita. Tapi kamu tenang saja. Aku hanya didekati kok, belum sampai dimiliki.


Bagiku, memilikimu adalah salah satu bentuk kebahagiaan yang Tuhan berikan kepadaku saat ini, mana mungkin aku menyia-nyiakanmu? Kalau memang ada wanita lain yang tertarik padaku, harusnya kamu jangan marah, karena itu artinya lelakimu ini masih laku. Memangnya kamu mau berpasangan dengan lelaki yang sudah tidak laku? Kalau mau, silakan. Kalau aku sih tidak mau sama lelaki seperti itu. sudah tidak laku, lelaki pula. Huh.




Sore ini kamu sudah pulang dari kampung halamanmu dan kembali ke perantauanmu. Dengan begitu jarak di antara kita sudah tidak sejauh beberapa minggu yang lalu. Hey, aku rindu.


Bagaimana kalau besok kita bertemu? Aku samperin rumahmu!










—Ttd Lelakimu—

Sunday, 14 September 2014

Berbahagialah!

Inilah harinya;

Hari pertama kau menangis kebingungan menatap Dunia,

Hari pertama orang tuamu menangis kegirangan menatap dirimu.



Inilah waktunya;

Di mana kau akan selalu bahagia mendapati banyak kerabat dan sahabat yang memberikanmu selamat,

Di mana orang tuamu akan selalu bahagia mendapati dirimu yang semakin dewasa dan hebat.



Silakan bahagia,

Silakan bahagia sampai menangis,

Silakan,

Terserah kau!



Seperti halnya mereka yang begitu mencintaimu dan kau cintai,

Aku pun berdoa untuk segala kebahagiaanmu;

Doa yang tak ada sedikit pun keburukan di dalamnya.



Selamat ulang tahun!

Berbahagialah!




---dan aku akan ikut merasakannya.

Tuesday, 18 December 2012

Pulang

Semakin jauh kita pergi meninggalkan orang tua, semakin kuatlah kerinduan orang tua kepada kita.

***

     "Kamu apa kabar? Jangan sampai salah gaul ya!"
kata seorang ayah kepada anaknya melalui dinding Facebook. "Kalau kamu lagi tidak sibuk, tolong kirim kabar. Ibumu kangen," lanjutnya...

     Sang anak tak pernah membalasnya, sampai beberapa hari setelah itu, ayahnya mendapat kabar; si anak telah meninggal.

     Si ayah sedih, sekaligus bingung, apa yang harus si ayah katakan kepada si ibu? Berhari-hari si ayah pun diam.

     "Ibu kangen anak kita, Yah. Suruh dia pulang! Ibu ingin sekali bertemu," kata si ibu, membuat si ayah semakin bingung.

     Pelan-pelan si ayah pun kemudian berkata, "Anak kita sudah pulang, Bu."

     "Mana, yah? Kok dia tidak menemui ibu? Apa dia ingin memberi ibu kejutan?" si ibu terus saja bertanya dengan antusias.

     "Ibu tenang dulu. Anak kita memang sudah pulang, tapi bukan ke rumah ini," perkataan si ayah membuat si ibu terdiam.

     "Anak kita senang sekali mendaki gunung, ibu tahu, kan?" kata si ayah, dan si ibu pun mengangguk.

     "Seminggu yang lalu, dia pergi dari rumah pun untuk mendaki gunung bersama teman-temannya. Tapi..."

     [kriiiing] Bunyi Telepon Rumah

     Si ibu mengangkat teleponnya, dan ternyata itu dari teman anaknya yang memberi tahu bahwa mayat anaknya telah ditemukan.

     Si ibu menangis, dan si ayah pun kemudian memeluk si ibu sambil berkata, "Maafkan aku yang tak bisa selalu menjaganya."



∞§∞
Posted on by Jonathan Ramsey in

Wednesday, 27 June 2012

Write, Read, and Share

Pernah gak sih terpikir untuk nulis sesuatu tapi gak tau harus mulai dari mana. Kadang banyak ide di otak yang semestinya bisa dituangkan kedalam cerita setelah kata-kata berhasil di rangkai. Tapi nyatanya menuangkan suatu kreatifitas kedalam sebuah media itu sangat amat sulit, makanya gue sangat menghargai mereka yang udah bisa menyalurkan ide-nya menjadi sebuah karya. Walaupun bukan suatu karya besar tapi itulah wujud dari kreatifitas yang ada diotaknya.




Write

Gua mencoba mengingat-ingat kembali beberapa buku yang dulu sempet gua baca salah satu buku yang paling membekas adalah sebuah novel yang judulnya “Derita Aminah: Neraka yang diciptakan oleh Ibu tiriku sendiri” Waktu gua baca itu kira kira saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Setiap kalimat yang gua baca dari buku itu bisa membawa langsung ke alur yang diceritakan si penulis. Kata kata dalam kalimatnya mampu mengontrol emosi siapapun yang membacanya dengan penuh penghayatan. Selain cerita yang seru, menulis sebuah cerita memerlukan keahlian khusus. Keahlian khusus tersebut tentu berbeda beda pada setiap orangnya. Gua termasuk orang yang berubah-ubah dalam menulis sesuatu, dan masih belum bisa terpaku kepada suatu genre tersendiri.


Read


Sama halnya dengan menulis, membaca pun tidak semua orang bisa melakukannya. Beberapa orang menyukai bacaan yang dapat menghibur tapi tidak dapat diambil pelajaran dari apa yang ia baca. Memilih bahan bacaan sangat penting karena itu mencerminkan karakter pribadi seseorang. Ada istilah buku adalah jendela dunia. Berhubung sekarang teknologi sudah canggih manfaatkan Internet untuk menggali bahan bacaan yang baik, menarik dan dapat diambil manfaatnya. Selain menambah wawasan, membaca juga bisa menghilangkan stress. Saat santai sore ditemani secangkir teh atau pagi hari sambil menikmati segelas kopi, dimana saja, kapan saja membaca bisa dilakukan!


Share

Setelah mengetahui sulitnya menulis dan nikmatnya membaca tentu kita perlu mempelajari apa yang disebut dengan apresiasi. Apresiasi merupakan bentuk penghargaan atas karya yang telah dibuat oleh seseorang dalam bentuk media apapun. Misalnya dalam hal penggunaan sumber atau kredit, beberapa yang awam masih belum mengerti akan poin penting yang satu ini. Menyebarkan karya seseorang tanpa sumber kredit atau hak cipta masih sering terjadi. Belajarlah untuk menghargai karya orang lain dengan menyantumkan sumber author yang sudah bersusah payah untuk menuangkan ide dan kreatifitasnya kedalam sebuah media.
Posted on by Jonathan Ramsey