Monday, 7 November 2016

Cerita Super Pendek

SEMENJAK kedatangannya beberapa saat yang lalu aku tahu ada yang tidak biasa–bahkan mungkin luar biasa–telah terjadi padanya. Wajahnya yang pucat dan tatapannya yang berat itu pertanda bahwa dia sedang tidak baik-baik saja. Aku belum tahu mengapa, tapi kurasa sebentar lagi dia akan memberitahukannya.

Aku menunggunya bicara, namun dia hanya diam. Masih dengan kesuraman di raut wajahnya, tak satu pun kata keluar dari mulutnya. Aku tak tahan lagi melihatnya. Jika memang dia tak kuasa untuk memulainya, mungkin aku yang harus bertanya, “Kamu nahan ee, ya?”

“Iya,” jawabnya pelan.

“Yeee, pantesan bau.” kataku sedikit sinis. “Sana buang dulu!”

“Ehehe…” lantas dia pun pergi ke sumur sambil jalan mundur.

TAMAT.